Lebih Mencintai Akhirat adalah Sumber Ketenangan dan Kebahagiaan

Wahb ibn Munabbih rahimahullah berkata bahwa Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam berkata kepada Hawariyyin (para sahabat Nabi ‘Isa),

أشدكم جزعا على المصيبة أشدكم حبا للدنيا.

“Orang yang paling gelisah dan sedih saat terkena musibah adalah orang yang paling cinta terhadap dunia.”

(Aina Nahnu min Akhlaaqis-Salaf, karya ‘Abdul-‘Aziiz ibn Naashir al-Jaliil dan Bahaa’ud-Diin ibn Faatih ‘Uqail, hlm. 85)

Mengikuti Sunnah Nabi, Harus Dalam Semua Aspek Agama

Ibn Rajab rahimahullah berkata,

والسنة هي الطريق المسلوك، فيشمل ذلك التمسك بما كان عليه هو وخلفاؤه الراشدون من الاعتقادات والأعمال والأقوال. وهذه هي السنة الكاملة. ولهذا كان السلف قديما لا يطلقون اسم (السنة) إلا على ما يشمل ذلك كله. وروي معنى ذلك عن الحسن والأوزاعي والفضيل بن عياض.

“Sunnah adalah jalan yang dilewati. Maka ia mencakup berpegang teguh pada tuntunan Nabi dan khulafaa’ raasyidiin, baik dalam aspek akidah, amal perbuatan, dan perkataan. Inilah sunnah yang sempurna. Oleh karena itu, para salaf di jaman dulu tidaklah menggunakan kata “sunnah” kecuali mencakup semua aspek tersebut. Diriwayatkan yang semakna dengan ini dari al-Hasan, al-Auzaa’iy, dan al-Fudhail ibn ‘Iyaadh.”

(Jaami’ul-‘Uluum wal-Hikam, karya Ibn Rajab, hlm. 591)

Orang yang Paham Agama Tidak Haus Kekuasaan

Dari Sufyaan, dari al-Ahnaf, bahwa beliau berkata,

قال لنا عمر بن الخطاب: تفقهوا قبل أن تسودوا.

“‘Umar ibn al-Khaththaab berkata kepada kami, ‘Pelajarilah agama sebelum kalian menjadi pemimpin.'”

Kemudian Sufyaan berkata,

لأن الرجل إذا فقه لم يطلب السؤدد.

“Karena jika seseorang paham agama, dia tidak akan menginginkan kekuasaan.”

(Aina Nahnu min Akhlaaqis-Salaf, karya ‘Abdul-‘Aziiz ibn Naashir al-Jaliil dan Bahaa’ud-Diin ibn Faatih ‘Uqail, hlm. 37)

Ciri Orang yang Cinta Karena Allah

Musaawir al-Warraaq al-Kuufiy rahimahullah berkata,

ما كنت أقول لرجل: إني أحبك في الله، ثم أمنعه شيئا من الدنيا.

“Tidaklah aku berkata kepada seseorang, ‘Aku mencintaimu karena Allah,’ kemudian aku enggan untuk memberinya sesuatu dari dunia.”

(Hilyatul-Auliyaa’ wa Thabaqaatul-Ashfiyaa’, karya Abu Nu’aim Ahmad ibn ‘Abdillaah al-Ashbahaaniy, jilid 7, hlm. 297)