Syirik Ashghar Lebih Berbahaya daripada Dosa Besar

Dari Wakii’, dari Mis’ar, dari Wabarah, bahwa ‘Abdullaah ibn Mas’uud berkata,

لأن أحلف بالله كاذبا أحب إلي من أن أحلف بغيره وأنا صادق.

“Aku bersumpah atas Nama Allah secara dusta* lebih kucintai daripada aku bersumpah atas selainNya secara jujur.”

(al-Mushannaf, karya Ibn Abi Syaibah, jilid 5, hlm. 28, no. 12405)

*Padahal, bersumpah atas Nama Allah secara dusta (yakni, sumpah palsu) adalah dosa besar. Bahkan ia termasuk tujuh dosa besar yang membinasakan.

Mujtahid Muthlaq Sekelas Imaam asy-Syaafi’iy Ternyata Tidak Pusing Memikirkan Kaifiyyah Sifat Allah

Imaam asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata,

لا يقال للأصل لم ولا كيف.

“Dalam masalah Sifat Allah, tidak boleh berkata ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.”

(al-‘Uluww lil-‘Aliyyil-Ghaffaar, karya Muhammad ibn Ahmad adz-Dzahabiy, hlm. 165)

Orang yang Mati di Atas Kekafiran adalah Penghuni Neraka

Imaam an-Nawawiy rahimahullah berkata,

قوله (أن رجلا قال: يا رسول الله، أين أبي؟ قال: في النار. فلما قفى دعاه فقال: إن أبي وأباك في النار). فيه أن من مات على الكفر فهو في النار ولا تنفعه قرابة المقربين، وفيه أن من مات في الفترة على ما كانت عليه العرب من عبادة الأوثان فهو من أهل النار. وليس هذا مؤاخذة قبل بلوغ الدعوة. فإن هؤلاء كانت قد بلغتهم دعوة إبراهيم وغيره من الأنبياء صلوات الله تعالى وسلامه عليهم. وقوله صلى الله عليه وسلم (إن أبي وأباك في النار) هو من حسن العشرة للتسلية بالاشتراك في المصيبة.

“Lafazh hadits, ‘Seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, di mana ayahku?’ Nabi menjawab, ‘Di neraka.’ Ketika orang tersebut balik badan, Nabi memanggilnya dan bersabda, ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.’ (Shahih Muslim)

Dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir, maka dia berada di neraka dan hubungan kekeluargaannya dengan orang shalih tidaklah bermanfaat baginya.

Dalam hadits ini juga terdapat pelajaran bahwa barangsiapa yang mati pada zaman sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangsa Arab menyembah berhala, maka dia termasuk penghuni neraka. Dan ini bukanlah hukuman yang dikenakan sebelum sampainya dakwah kepadanya, karena telah sampai dakwah Nabi Ibrahim dan juga dakwah para nabi lainnya kepada mereka.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka,’ adalah bentuk cara bergaul yang baik untuk menghibur dengan cara menyebutkan bahwa kita dan orang lain sama-sama terkena musibah tersebut.”

(al-Minhaaj fiy Syarh Shahiih Muslim ibn al-Hajjaaj, karya Imaam an-Nawawiy, hlm. 241)

Penuhi Hak Penguasa walaupun Dia Tak Penuhi Hak Kita

Syaikh Ibraahiim ibn ‘Aamir ar-Ruhailiy hafizhahullah berkata,

إن قصّر الحاكم في أداء حق الرعية، فلا يجوز لهم التقصير في أداء حقه عليهم في الدنيا. وأما يوم القيامة فكل مسؤول عن واجبه. وقد أجاب النبي صلى الله عليه وسلم من سأله: يا نبي الله، أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألونا حقهم ويمنعونا حقنا، فما تأمرنا؟ فقال: اسمعوا وأطيعوا، فإنما عليهم ما حملوا، وعليكم ما حملتم.

“Jika penguasa tidak memenuhi hak rakyatnya, maka tidak boleh bagi rakyat untuk tidak memenuhi hak penguasa selama di dunia. Adapun di hari kiamat kelak, maka setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajibannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau, “Wahai Nabi Allah, bagaimana jika ada penguasa yang meminta kami untuk memenuhi haknya sementara dia tidak memenuhi hak kami? Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dengarkanlah dan ta’atlah! Sungguh mereka akan bertanggung jawab atas dosa-dosa mereka, dan kalian akan bertanggung jawab atas dosa-dosa kalian.”

(al-Ihkaam fiy Sabri Ahwaalil-Hukkaam, karya Syaikh Ibraahiim ibn ‘Aamir ar-Ruhailiy, hlm. 14)

Akidah Imaam asy-Syaafi’iy bahwa Allah Berada di Atas ‘Arsy

Imaam asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata,

القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء.

“Keyakinan dalam Sunnah Nabi yang aku berada di atasnya, yang aku melihat para sahabatku juga berada di atasnya, yaitu ahlul-hadits, yang aku temui dan aku ambil ilmu dari mereka, seperti Sufyaan, Maalik, dan selainnya, adalah: Menetapkan persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasulullah, dan bahwa Allah Ta’ala berada di atas ‘ArsyNya di langit, dan dekat dengan para makhlukNya sebagaimana yang Dia kehendaki, dan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.”

(I’tiqaad al-A’immah al-Arba’ah, karya Syaikh Muhammad ibn ‘Abdir-Rahmaan al-Khumayyis, hlm. 40)

Mengikuti Sunnah Nabi, Harus Dalam Semua Aspek Agama

Ibn Rajab rahimahullah berkata,

والسنة هي الطريق المسلوك، فيشمل ذلك التمسك بما كان عليه هو وخلفاؤه الراشدون من الاعتقادات والأعمال والأقوال. وهذه هي السنة الكاملة. ولهذا كان السلف قديما لا يطلقون اسم (السنة) إلا على ما يشمل ذلك كله. وروي معنى ذلك عن الحسن والأوزاعي والفضيل بن عياض.

“Sunnah adalah jalan yang dilewati. Maka ia mencakup berpegang teguh pada tuntunan Nabi dan khulafaa’ raasyidiin, baik dalam aspek akidah, amal perbuatan, dan perkataan. Inilah sunnah yang sempurna. Oleh karena itu, para salaf di jaman dulu tidaklah menggunakan kata “sunnah” kecuali mencakup semua aspek tersebut. Diriwayatkan yang semakna dengan ini dari al-Hasan, al-Auzaa’iy, dan al-Fudhail ibn ‘Iyaadh.”

(Jaami’ul-‘Uluum wal-Hikam, karya Ibn Rajab, hlm. 591)