Kritik Ilmiah adalah Budaya Ilmiah Islam Sejak Dulu

Abu Is-haaq asy-Syiiraaziy rahimahullah (w. 476 H) berkata,

ولا يجوز للمتيمم أن يصلي بتيمم واحد أكثر من فريضة. وقال المزني: يجوز. وهذا خطأ، لما رُوي عن ابن عباس رضي الله عنه أنه قال: من السنة أن لا يصلي بتيمم إلا صلاة واحدة ثم يتيمم للصلاة الأخرى.

“Tidak boleh bagi orang yang bertayammum untuk melakukan shalat wajib lebih dari satu kali dengan satu kali tayammum. Adapun al-Muzaniy berkata, ‘Boleh.’ Ini adalah kesalahan, karena diriwayatkan dari Ibn ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata, ‘Termasuk Sunnah Nabi adalah tidak boleh shalat dengan satu kali tayammum kecuali satu shalat saja, kemudian (dia harus) bertayammum untuk melakukan shalat selanjutnya.'” (al-Muhadzdzab fiy Fiqhil-Imaam asy-Syaafi’iy, karya Abu Is-haaq asy-Syiiraaziy, jilid 1, hlm. 135)

Pelajaran yang bisa diambil dari kutipan ini adalah:

  1. Bolehnya untuk melakukan kritik ilmiah kepada orang lain dalam masalah agama, sebagaimana telah dicontohkan oleh Abu Is-haaq asy-Syiiraaziy rahimahullah, salah seorang ulama’ besar dalam madzhab Syaafi’iy.
  2. Bolehnya untuk menyalahkan orang lain saat melakukan kriitik ilmiah dengan menggunakan lafazh yang secara tegas menyatakan bahwa pihak yang dikritik tersebut telah melakukan kesalahan.
  3. Pembeda antara kritik yang ilmiah dan yang tidak ilmiah adalah apakah kritikan tersebut berlandaskan pada dalil dan bukti yang kuat atau tidak.
  4. Fokus pada ilmu, bukan pada selainnya, saat melakukan kritik ilmiah.
  5. Tidak fanatik pada ulama’ besar, setinggi apapun keilmuwan beliau. Jika dalam sebuah masalah beliau melakukan kesalahan, seperti berpendapat tidak sesuai dengan dalil, maka kita tidak boleh mengikuti beliau dalam masalah tersebut. al-Muzaniy rahimahullah (w. 264 H) adalah murid langsung dari Imaam asy-Syaafi’iy rahimahullah (w. 204 H). Walaupun begitu, Abu Is-haaq asy-Syiiraaziy rahimahullah tetap menjelaskan kepada umat mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sesuai dengan dalil dan mana yang tidak.
  6. Perlu diingat bahwa tidak fanatik pada ulama’ itu bukan berarti tidak menghargai dan tidak memuliakan ulama’ tersebut. Sebagian orang ketika dikatakan kepada mereka untuk tidak fanatik pada ulama’, mereka lantas tidak menghargai dan tidak memuliakan ulama’ tersebut. Sebagaimana sebagian orang ketika dikatakan kepada mereka untuk menghargai dan memuliakan ulama’, mereka lantas fanatik pada ulama’ tersebut. Yang benar adalah kita harus menghargai dan memuliakan ulama’ dan guru yang telah mengajarkan ilmu agama kepada kita, namun kita tidak boleh fanatik kepadanya ketika kita tahu beliau melakukan kesalahan dalam sebuah masalah.

Andy Latief

Metode Mengajar Nabawi: Arahkan pada yang Dibolehkan Setelah Menyebutkan yang Terlarang

Dari Abu Ayyuub al-Anshaariy radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا أتيتم الغائط فلا تستقبلوا القبلة بغائط ولا بول، ولا تستدبروها، ولكن شرقوا أو غربوا.

“Jika kalian hendak buang air, maka janganlah menghadap arah kiblat saat buang air besar maupun buang air kecil, dan janganlah membelakangi arah kiblat. Akan tetapi, menghadaplah kalian (wahai penduduk Madinah) ke timur atau ke barat.” (Muttafaq ‘alaih)

Syaikh Muhammad ibn Shaalih al-‘Utsaimiin rahimahullah menjelaskan bahwa di antara faidah hadits ini adalah

حسن تعليم النبي صلى الله عليه وسلم، لأنه لما ذكر الممنوع أرشد إلى الجائز.

“Bagusnya metode pengajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau ketika menyebutkan sesuatu yang terlarang, beliau mengarahkan kepada sesuatu yang dibolehkan.” (Tanbiihul-Afhaam Syarh ‘Umdatil-Ahkaam, karya Syaikh Muhammad ibn Shaalih al-‘Utsaimiin, jilid 1, hlm. 40)